Senin, 28 Januari 2013

KEARIFAN LOKAL MASYARAKAT JAWA DAN KELESTARIAN LINGKUNGAN


KEARIFAN LOKAL MASYARAKAT JAWA DAN KELESTARIAN LINGKUNGAN


 Intisari

Masalah lingkungan menjadi masalah yang global. Dampaknya dapat dirasakan oleh seluruh penduduk bumi dengan adanya gejala-gejala alam yang menunjukkan ketidakwajarannya.

Ketika disadari bahwa lingkungan mendapatkan ancaman serius, ternyata adanya kearifan lokal justru lebih dahulu berperan dalam menjaga kelestarian lingkungan sebelum gerakan-gerakan peduli lingkungan bermunculan. Bahkan dalam hal tertentu kearifan lokal lebih berperan dalam menjaga ekosistem dari pada hukum yang ditetapkan dalam mengatur pola masyarakat. Adanya mitos, ritual, dan pitutur luhur yang erat kaitannya dengan alam mampu mengatur masyarakat sedemikian rupa dalam hubungannya dengan lingkungan sekitar. Namun keberadaan kearifan lokal tersebut terancam oleh nilai-nilai asing yang turut masuk lewat globalisasi.

Berawal dari revolusi industri di Inggris yang ditemukannya mesin sebagai pengganti tenaga manusia. Di awal itu pula pembangunan di galakan untuk menumbuhkan ekonomi masyarakat. Pembangunan merupakan hal yang penting dalam peningkatan ekonomi karena dengan adanya pembangunan dapat membuka lajur perekonomian dari produksi, distribusi, hingga ke konsumsi.

Seiring berjalannya waktu dengan pembangunan yang digenjarkan oleh pemerintah di negara masing-masing telah disadari terdapat dampak dari pembangunan terhadap lingkungan. Pembangunan yang selama ini dijalankan sebagian besar merupakan pembangunan yang tidak berwawasan lingkungan. Pembangunan yang hanya mementingkan kepentingan ekonomi dan pemilik modal tanpa memperhatikan segi keseimbangan antara kegiatan manusia dengan alam.

Pembangunan sektor ekonomi dengan membangun tempat-tempat produksi secara besar-besaran menyebabkan pembangunan berdampak pula pada lingkungan. Banyaknya tempat industri telah mengurangi daya serap tahan terhadap air. Sehingga memunculkan bencana seperti banjir dan tanah longsor. Membuka hutan sehinga hutan beralih fungsi yang dapat menguragi kemampuan hutan untuk mengontrol kadar CO2 (Karbon dioksida) di alam bebas. Di sisi lain kegiatan manusia yang berlebihan menambah jumlah CO2 di alam. Hal ini semakin membuat hutan tidak bisa mengimbangi kegiatan manusia. Hasilnya global warming mengancam dunia.

Dewasa ini sebagian umat manusia telah menyadari bahwa bumi menunjukan gejala-gejala yang tidak normal lewat fenomena alam. Adanya badai angin, iklim yang tidak menentu, serta semakin bekurangnya luas es di kutub utara dan selatan merupakan bukti bahwa selama ini kegitan manusia hanya berorientasi pada kepentingan pemenuhan kebutuhan manusia tanpa memikirkan pelestarian alam sebagai sumber pemenuhan kebutuhan.

Jauh sebelum pergerakan peduli lingkungan digalakan, ternyata keberadaan kearifan lokal telah terlebih dahulu berperan dalam menjaga pelestarian alam. Kearifan lokal merupakan cara berfikir masyarakat tentang keadaan lingkungan sekitar baik fisik maupun non fisik yang berpijak pada sosial budaya. Kita dapat melihat bagaimana mitos mengatur masyarakat sedemikian rupa salah satunya mengatur perilaku manusia kepada alam. Bagaimana keberadaan tradisi seperti ritual-ritual sebagai penghormatan terhadap penjaga tempat tertentu, seperti hutan, gunung, danau, dan lain sebagainya dapat menumbuhkan integrasi masyarakat untuk bersama-sama saling menghargai alam.
  • Kearifan Lokal dalam Membentuk Integrasi Kelompok.
Integrasi sosial dimaknai sebagai proses penyesuaian di antara unsur-unsur yang saling berbeda dalam kehidupan masyarakat sehingga menghasilkan pola kehidupan masyarakat yang memiliki keserasian. Integrasi sangat dibutuhkan dalam suatu masyarakat karena sebagai kekuatan bagi masyarakat dalam menghadi permasalahan-permasalahan sosial yang timbul, baik permasalahan intern maupun ekstern. Sehingga integrasi merupakan sebuah modal sosial yang berharga bagi masyarakat selaras dengan perkembangannya.

Di dalam masyarakat banyak hal yang dapat membuat individu terintegrasi dalam kelompok-kelompok, salah satunya adalah kearifan lokal. Kearifan lokal merupakan salah satu warisan leluhur yang diturunkan secara turun temurun, dari generasi ke generasi. Hal ini jelas sangat berhubungan dengan budaya yang juga diturunkan oleh leluhur.

Dalam kaitannya antara kearifan lokal, integrasi, dan pelestarian lingkungan, maka kearifan lokal yang mendarah daging pada setiap lapisan masyarakat, di saat itu pula tercipta integrasi individu dalam kesatuan masyarakat. Seperti ritual bersih desa yang melibatkan seluruh lapisan masyarakat yang secara jelas menciptakan integrasi juga memiliki kaitannya dengan pelestarian lingkungan.
Adanya kearifan lokal merupakan nilai-nilai yang bersifat fundamental dalam masyarakat yang memicu munculnya konsensus atau kesepakatan. Dari awal inilah integrasi masyarakat dapat tercipta.
  • Mitos dan Pelestarian Lingkungan.
Mitos menjadi bagian dari sistem kepercayaan masyarakat. Sistem kepercayaan yang dimiliki suatu masyarakat tentu akan berpengaruh pula pada pola pikir dan tingkah laku yang nantinya berujung pada  cara-cara pengelolaan lingkungan.

Bentuk-bentuk penghormatan kepada gunung dan hutan sebagai ruang yang diyakini sebagai tempat yang “berpenghuni” dalam arti terdapat kekuatan gaib atau istilahnya angker, ternyata menciptakan cara berperilaku yang tidak jauh dengan prinsip konservasi. Dalam prinsip konservasi yang dibutuhkan adalah rasa saling menghormati dan menjaga alam. Masyarakat cenderung akan berpikir ulang jika melakukan kegiatan di tempat-tempat yang dianggapangker. Mereka akan menjaga dan menghormati tempat-tempat tersebut.

Mitos juga berlaku pada hewan-hewan tertentu yang dianggap keramat, seperti ular, kucing, burung gagak, burung hantu, dan hewan lainnya. Dengan adanya mitos ini kelangsungan hidup hewan tersebut lebih terjamin, karena masyarakat yang menganggap keramat hewan ini. Mengingat satwa adalah bagian dari jaringan ekosistem yang turut pula memainkan perannya dalam menjaga keseimbangan ekosistem.

Dalam masyarakat jawa juga dikenal dengan sesajenSesajen meupakan seperangkat persembahan yang digunakan untuk menghormati penunggu tempat-tempat tertentu, seperti pohon besar, muara sungai, dan lain-lain. Pohon yang diberi sesajen menghalangi seseorang untuk menebang pohon tersebut. Dalam hal ini berlaku asumsi fungsi manifes dan laten dari adanya sesajen tersebut. Namun saya tetap melihat dengan adanya sesajen tersebut akan menghindari terjadinya penebangan pohon.

Dengan melihat masyarakat petani di jaman sekarang yang menggunakan pestisida dan pupuk buatan, hal tersebut dapat dikontrol dengan adanya penentuan hari baik tersebut. Tanah juga akan mempunyai waktu untuk memperbaiki unsur hara yang terkandung di dalamnya. Hal ini juga dapat mengendalikan penggunaan pestisida dan pupuk buatan secara berlebihan.
  • Pitutur Luhur.
Dalam filsafah jawa dikenal pitutur luhur berarti kata-kata luhur atau bisa juga diartikan kata-kata bijak. Bagi masyarakat Jawa, pitutur luhur diperoleh dari leluhur mereka yang mengajarkan nilai-nilai kehidupan tentang bagaimana bersikap sesama manusia maupun perlakuan terhadap alam.

Filsafat jawa juga mengajarkan kita bagaimana bersikap kepada alam. Aja nggugu karepe dhewe, jika diterjemahkan berarti jangan berbuat sekehendak sendiri. Kata-kata ini mengajarkan tentang bagaimana kita harus mengendalikan diri untuk tidak berbuat semena-mena kepada orang lain. Mengajarkan kita tentang bagaimana mengelola nafsu, mengendalikan nafsu, dan bukan dikendalikan oleh nafsu. Tidak berbuat semena-mena kepada orang lain berarti juga tidak berbuat semena-mena terhadap alam. Jika berbuat demikian, kerusakan alam karena ulah manusia demi kepentingan pribadi akan berdampak pula pada orang lain.

Ibu bumi, bapa aksa. Artinya ibu adalah bumi, bapak adalah langit. Maksudnya bumi adalah simbol ibu yang memberikan kesuburan tanah sebagai tempat kegiatan pertanian. Langit adalah simbol bapak yang memberikan keberkahan lewat hujan. Ajaran ini mengajarkan kita bagaimana menyayangi, melindungi, dan menghormati bumi beserta langit sebagaimana kita melakukannya kepada kedua orang tua. Jika kita merusak bumi, maka langit pun akan ikut marah. Seperti halnya jika kita berbuat tidak baik kepada ibu, maka bapak pun akan marah, demikian pula sebaliknya. Sebagai contoh adanya perusakan hutan. Hutan merupakan penopang keseimbangan ekosistem. Jika dirusak, maka ekosistem akan kacau dan iklim menjadi tidak menentu. Akibatnya langit menunjukan kemarahannya dengan fenomena seperti badai, curah hujan tinggi, dan lain-lain.

Asta brata atau delapan ajaran. Merupakan ajaran kemanusiaan dan kepemimpinan. Ajaran ini juga sering diajarkan kepada putra mahkota raja-raja jawa. Ajaran ini bertolak pada filsafat bumi, air, api, angin, matahari, bulan, bintang, dan awan. Dalam perkembangannya asta brata tidak diajarkan hanya kepada putra mahkota kerajaan, tetapi juga kepada masyarakat luas. Delapan elemen tersebut merupakan elemen yang saling berkaitan satu sama lain dan memiliki pengaruh terhadap kelangsungan hidup manusia.

Dalam Babad Tanah Jawa mengupas salah satu ajaran dari Syekh Lemah Abang atau terkenal dengan nama Syekh Siti Jenar dengan konsep manunggal, bersatu. Ajaran ini sangat melekat pada orang-orang kejawen. Terlepas benar atau tidaknya dari ajaran ini, sebagaimana sifat sosiologi yang tidak memandang benar atau salah, tapi lebih menekankan apa yang terjadi. Pada awal konsepnya manunggal adalah bersatunya manusia dengan tuhan. Namun kosep ini dikembangkan oleh para penganut kejawen. Manunggal diartikan ke dalam banyak hal. Salah satunya adalah manunggal dengan alam.
  • Ritual dan Pelestarian Alam.
Ritual merupakan bagian dari kepercayaan. Di masyarakat jawa terdapat ritual yang berhubungan langsung dengan alam. Melihat dari keberadaan mitos yang telah dijelaskan di atas, para penunggu Pulau Jawa yaitu roh-roh halus menempati gunung, hutan, dan lautan sebagai tempat tinggal mereka. Ritual diadakan oleh masyarakat jawa sebagai bentuk penghormatan kepada roh-roh sebagai penunggu gunung, hutan, dan laut. Bentuk dari ritual tersebut sangat beragam. Mulai dari penghormatan agar roh-roh tersebut tidak menggangu masyarakat, sampai pada penghormatan sebagai bentuk rasa syukur karena telah melimpahkan rejeki.

Ritual-ritual yang dilakukan masyarakat jawa tidak lepas dari pandangan masyarakat terhadap alam. Dalam upacara selamatan yang meminta keberkahan terhadap roh-roh penunggu, lelembut, jin, dan sebagainya yang menunggu tempat tertentu. Menurut kepercayaan keberadaan makhluk halus tersebut dapat mendatangkan keberkahan dan keselamatan. Namun jika manusia merusak tempat tinggal mereka, maka akan terjadi malapetaka.

Para pendaki gunung sering kali melakukan ritual tertentu sebelum melakukan untuk memohon keselamatan dan sebagai bentuk penghormatan kepada roh penunggu gunung untuk tidak mengganggu. Secara tersirat ritual tersebut memaksa para pendaki gunung untuk tidak melakukan perusakan ketika pendakian dilakukan.
  • Kearifan Lokal versus Hukum dalam Pelestarian Lingkungan.
Sebelumnya, dalam hal ini saya memandang peran hukum terutama hukum yang mengatur tentang kelingkungan dan peran kearifan lokal serta lebih menitik beratkan pada keefektifan keduannya di dalam mengatur hubungan manusia dengan alam.

Hukum adalah seperangkat aturan yang bersanksi. Jalannya suatu hukum sangat di pengaruhi oleh tiga elemen, yaitu substansi, struktur, dan legal culture. Substansi hukum merupakan materi hukum yang selaras dengan tujuan hukum itu dibuat. Struktur hukum mencangkup lembaga-lembaga penegak hukum, dan legal culture adalah budaya hukum masyarakat. Ketiganya sangat mempengaruhi jalannya suatu hukum. Hukum harus dibentuk sesuai dengan tujuan yang diharapkan dan didukung dengan lembaga yang benar-benar secara konsisten menegakkan hukum. Keduannya juga harus didukung oleh budaya hukum dari masyarakat untuk menjamin dari jalannya suatu hukum.

Di saat ketidakberdayaan hukum tentang kelingkungan hidup dalam mengatur hubungan manusia dengan alam, kearifan lokal justru lebih lama berperan dan lebih efektif. Kearifan lokal erat dengan nilai-nilai yang telah mendarah daging di dalam masyarakat. Terutama pada masyarakat desa, yang mayoritas buta hukum, justru lebih menaati nilai-nilai yang diwariskan secara turun temurun oleh leluhur mereka. Sebagaimana telah dijelaskan di atas, adanya mitos,pitutur luhur, dan ritual-ritual justru lebih efektif dalam mengendalikan masyarakat untuk tidak melakukan eksploitasi secara berlebihan terhadap alam.
  • Kelangsungan Kearifan Lokal yang Terancam.
Globalisasi mendatangkan akibat yaitu mudahnya nilai-nilai asing masuk ke dalam suatu negara atau wilayah. Indonesia sebagai negara dunia ke tiga tidak lepas dari pengaruh asing. Dalam kehidupan kita sehari-hari banyak kita temukan unsur-unsur asing yang masuk ke dalam masyarakat Indonesia. Dari sisi pola hidup misalnya. Konsumerisme menjamur hampir di setiap lapisan masyarakat. Sikap liberal juga berkemabang seiring perkembangan jaman.

Saya bukan orang yang tidak setuju dengan adanya globalisasi. Namun yang harus kita cermati adalah sikap kita dalam menyambut globalisasi. Hendaknya dalam menghadapi globalisasi tetap berpegang pada nilai-nilai luhur yang diwariskan kepada kita.

Nasib kearifan lokal terus terancam oleh globalisasi. Perlahan-lahan namun secara pasti kearifan lokal mulai tergerus oleh perkembangan jaman. Disadari atau tidak, masyarakat jawa sudah mulai meninggalkan ritual-ritual yang berhubungan dengan alam, melupakan pitutur luhur atau kata-kata bijak, dan menganggap mitos hanya seuatu kebohongan.

Tidak hanya globalisasi, westernisasi pun juga turut mengancam kearifan lokal. Bisa kita lihat bagaimana generasi muda saat ini meniru pola-pola hidup yang bercondong ke negara-negara barat. Dari hal yang sederhana seperti musik misalnya. Hanya sedikit dari generasi muda yang tahu akan musik tradisional dan hanya segelintir yang mampu memainkan musik tradisional.

Solusi
  • Mempertahankan kearifan lokal.
Di sisa-sisa tenaga kearifan lokal dalam mempertahankan eksistensinya, diperlukan suatu usaha untuk menjaganya untuk tetap berkembang dalam masyarakat. Usaha tersebut harus disertai dengan kesadaran akan peranan kearifan lokal yang sangat penting di dalam menghadapi permasalahan.

Pendidikan merupakan media dimana dalam proses pembelajaran ditanamkan nilai-nilai. Dalam memberdayakan kearifan lokal dapat dilakukan dengan mengintegrasikan dalam mata pelajaran tertentu, misalnya muatan lokal. Sedangkan untuk menanamkan nilai-nilai kelingkungan dapat dilakukan dengan hal yang sama maupun dengan mata pelajaran khusus, seperti pendidikan kelingkungan hidup.

Pendidikan tidak hanya di dalam bangku sekolah. Pendidikan yang lebih penting adalah pendidikan sejak dini yang dimulai dari keluarga dengan memperkenalkan kearifan lokal dan menanamkan pedulu lingkungan kepada anggota keluarga.
Sesuai yang telah dibahas di atas, globalisasi dan westernisasi mengancam kearifan lokal. Untuk itu dalam setiap unsur asing yang masuk, hendaknya tetap memegang nilai-nilai asli sebagai pedoman.

Masalah Lingkungan.
  • Pemerintah
Lebih menegakkan hukum tentang unadang-undang lingkungan hidup merupakan hal yang wajib dilakukan. Disamping itu diperlukan usaha penghijauan dan gerakan peduli lingkungan yang harus dilakukan mengingat kerusakan alam semakin parah.
  • Masyarakat.
Kesadaran, kepedulian, dan sikap tanggung jawab diperlukan dalam menjaga kelestarian lingkungan. Sadar bahwa lingkungan merupakan hal penting untuk kelangsungan hidup manusia. Peduli untuk melestarikan dan menjaga lingkungan, serta kegiatan manusia harus disertai rasa tanggung jawab terhadap alam.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar